Kewajiban Kita atas Karunia yang Kita Terima

Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan cara melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Setiap muslim wajib bersyukur atas nikmat Islam yang telah diberikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepadanya. Jika seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, maka ia adalah orang yang tidak tahu berterima kasih. Demikian juga jika manusia tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka dia adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.

 “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah : 152)

Kewajiban apakah yang harus kita laksanakan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita? Jawabannya, karena Allah telah memberikan karunia-Nya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam, maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya kepada Allah secara ikhlas, mentauhidkan Allah , menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam serta taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam, yang dengan hal itu kita menjadi muslim yang benar. Oleh karena itu, agar menjadi seorang muslim yang benar, kita harus menuntut ilmu syar’i. Kita harus belajar agama Islam, karena Islam adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam diutus oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan membawa keduanya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur-an) dan agama yangbenar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 33)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga berfirman,

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” (Al-Fath: 28)

Yang dimaksud dengan Al-Hudaa (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat, dan Dinul Haqq (agama yang benar) adalah amal shalih. Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam untuk menjelaskan kebenaran dari kebathilan, menjelaskan nama-nama Allah, shifat-shifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta memerintahkan semua yang bermanfaat bagi hati, ruh dan jasad. Beliau memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah semata-mata karena Allah, mencintai-Nya, berakhlaq dengan akhlaq yang mulia, beramal shalih dan beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau melarang perbuatan syirik, amal dan akhlaq buruk yang membahayakan hati dan badan juga dunia dan akhirat.

Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah adalah dengan menunut ilmu syar’i. Menuntut ilmu merupakan jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim) untuk memahami yang haqq dan yang bathil, antara yang ma’ruf dan yang munkar, antara yang bermanfaat dan yang mudharat (membahayakan) dan menuntut ilmu akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.

Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan ke-Islamannya tanpa memahami dan mengamalkannya. Pernyataan itu harus dibuktikan dengan melaksanakan konsekuensi dari Islam. Untuk itu, menuntu ilmu syar’i merupakan jalan menuju kebahagiaan abadi.

Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

 

“Menuntu ilmu itu wajib atas setiap muslim.” [Shahih: HR. Ibnu Majah (no.224)]

 

Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
“…Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan dirinya dengan jalan menuju Surga.” [Shahih: HR. Muslim (no. 2699)]

 

(Sumber: Buku Prinsip Dasar Islam buah karya Al Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, halaman 12 sd. 15 cetakan ke-18, Penerbit Pustaka At Taqwa.)